Kamu tambah gemuk yah?
Rambut kamu kok bagus sih di foto yang ini?
Gila curang banget dia. Kok dia peluk-peluk kamu gitu sih?
Argh. Aku pengen peluk kamu juga.
Hahaha. Kamu cakep banget di sini. Ketawanya kayak bahagiaaaa banget.
Kamu kapan ke warnet lagi ?
Kangen sama teriakan kamu.
Tadi aku main kejar-kejaran, trus inget kamu.

Bear, I can’t help thinking of you.

teddy-bear_0475655Bulan Desember lalu, saya mengikuti sebuah latihan intesif menjelang perlombaan. Lomba ini per-team dan jumlah anggotanya banyak sekali. Saya sih sudah kenal banget sama semua anggotanya, secara kami semua memang sering bertemu untuk latihan. Ada satu orang yang sangat menarik buat saya. Bukan karena dia baik hati atau cakep atau bagaimana. Tapi karena dia itu bener-bener menyebalkan dan senengnya nyari masalah! Apalagi dia itu termasuk orang yang dipandang di komunitas team itu, jadilah dia makin semena-mena marah-marahin orang dan menyuruh seenaknya. Haaah… Kalau marah, matanya yang belok melotot lebar-lebar, mulutnya mengeluarkan suara menggelegar. Persis kayak beruang ngamuk. Makanya judul di atas saya tulis my teddy bear. Hehe…

Sebulan itu, saya sudah cukup deh merasakan “nikmat”-nya dimarah-marahin sama dia. Rasanya dia itu sensi banget sama saya. Setiap saya berpapasan dengan dia, pasti dia berkomentar,

“Aduh, ketemu si Lone lagi deh.”

atau

“Duh, kok lo melulu sih yang ada di sekitar gue?”

Yeaaa, siapa juga yang mau ketemu sama lo? Tapi karena saya males nyari gara-gara, saya memilih buat diam saja. Tapi dia selalu mencecar saya dengan perkataan lain seperti,

“Ih ngambek yaa?”

atau

“Yeee gitu aja marah…”

Yaah pokoknya adaa saja yang dibuatnya sampai akhirnya saya berkelahi kecil-kecilan sama dia. Mulai dari kejar-kejaran, pukul-pukulan, sampai melotot-melototan (walaupun pada akhirnya pasti saya kalah karena dia jauh lebih tinggi dan sangat menyeramkan).

Sampai pada suatu hari, saat sedang seru-serunya latihan, saya terjatuh dengan posisi kaki terlipat. Teman-teman langsung heboh dan mengerubungi saya namun saat itu si Beruang sedang tidak berada di tempat yang sama. Walaupun kelihatannya sepele, ternyata sakit sekali lho. Apalagi saya harus tetap melanjutkan latihan seakan-akan tidak ada yang terjadi pada saya, padahal kaki saya bertambah sakit waktu demi waktu. Pada saat istirahat, saya berusaha memijat kaki saya sendiri, tapi saya benar-benar tidak bisa memijat. Saat saya lagi celingak-celinguk mencari teman untuk dimintai tolong, tiba-tiba ada sosok yang jongkok dan memijat kaki saya lalu bertanya, “Yang mana yang sakit? Sini gue pijetin.” Dan tahukah kalian siapa sosok ini?

si Beruang boo!

Haha. Saya langsung ketakutan. Biasanya dia kan kerjanya kayak beruang ngamuk, kok sekarang baik banget sih mau pijetin saya? Jangan-jangan ada maunya lagi… Tapi, dia memang baik kok. Dia sama sekali tidak meminta apa-apa sama saya. Bahkan sejak saat itu, hubungan kami lebih intens.  Berantem dan adu nyolot sih tetap sama. Bedanya, kami lebih mudah mengakhiri perkelahian dengan senyuman dan tawa penuh canda.

Bersama dia, saya belajar bahwa benci itu benar-benar bisa berubah jadi cinta dalam sekejap.

Ya, saya sedang jatuh cinta, sama Beruang yang saat ini belum bisa jadi milik saya.

9.36, di depan desktop

Si Lone yang lagi kangen sama Beruang

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana saya sangat excited menanti tahun baru, tahun ini saya tidak terlalu semangat tuh menanti tahun baru. Saya merasa tahun 2008 saya terlalu indah dan menyenangkan dan saya belum siap mental untuk beralih ke tahun 2009. Di tahun 2009 ini, begitu banyak hal yang akan berubah. Saya tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang yang membuat tahun 2008 saya sebegitu berharganya.  Saya akan berinteraksi dengan lingkungan baru dan memulai kehidupan saya di tempat yang baru juga.

Ya, saya belum siap mental walaupun ini sudah memasuki bulan Januari.

Saya rindu bulan Desember.

Saya rindu bulan Juni.

Saya rindu bulan April.

Saya rindu potongan rambut saya yang dulu.

scan0002-copyLast Sunday was extremely awesome !

Jadi ceritanya hari Minggu kemarin aku menghabiskan waktuku bersama my lovely dad, berhubung mamiku lagi having holiday with my sister in HK.

Mengapa extremely awesome?

Karena melihat pengalaman yang dulu-dulu, weekend bersama my lovely dad ga pernah sukses. Saat beberapa waktu lalu mami pergi liburan ke Taiwan, saya di rumah malah berantem sama papi. Saat beberapa bulan lalu mami pergi liburan ke Bali, saya di rumah diam-diaman sama papi. Yah intinya ga pernah oke deh. Tetapi menakjubkannya, saat kemarin mami pergi liburan ke HK, saya dan papi saya malah mengalami hari paling menyenangkan sepanjang sejarah “hari-hari weekend bersama ayah”

Apa yang kamu lakukan pada hari Minggu kemarin?

Pagi hari, kami pergi ke gereja untuk mengikuti misa pukul 08.00. Sepanjang perjalanan menuju ke gereja, papi my lovely dad sibuk mengusap-usap rambut jigrak saya. Beliau berkomentar,

“Lone, papi juga pengen punya rambut kayak kamu. Kok bisa ya berdiri semua? Padahal kan panjang.”

“Kan pakai wax, pi.”

“Halah, dari kecil rambut kamu memang kayak singa kok. Kamu itu turunan siapa ya Lone? Papi mami rambutnya ga ada yang kayak kamu.”

“*(^^&*&%%$###^&T&*B (D*WQ^!!”

Setelah itu?

Lalu kami pergi ke sebuah mall di bilangan Jakarta Pusat. Sesampainya di sana, kami mendapati bahwa supermarketnya belum buka. Kepagian ternyata. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk-duduk di Starbucks. Papi My lovely dad langsung mencari sofa yang nyaman sedangkan saya memesan Caramel Chocolate. Setelah membayar, aku menuju meja pengambilan pesanan. Masih sepi banget, pikirku. Lalu aku melihat seseorang yang bikin gaydarku nguing-nguing loncat-loncat teriak-teriak ga karuan. Barista yang bikin aku senyum-senyum ga berhenti. Cewek yang bikin aku dag dig dug kayak bedug. Bikin aku pengen supaya minumanku jatuh trus dia bikinin lagi :P

Dia membuat caramel chocolate pesanan saya dengan begitu anggun dan nyaman dilihat. Tatapan matanya yang sekseh langsung bikin kelenjar air liurku berfungsi terllau lancar. Gayanya menuang susu seketika itu juga bikin aku menggigit bibir, resah. Dia barangkali salah satu wanita terindah yang bikin aku pengen kenalan lebih lanjut.

Mungkin, dia menyadari ketertarikanku. Dia mengajakku berbicara,

“Mau pake whipped cream?”

Aduh gila mampus aku tatapan matanya ga nahan, suaranya serak-serak becek abis ujan! Itu hanya 4 kata dan aku sudah melting dibuatnya.

Obrolan berlanjut terus. Dia menanyakanku umur berapa lah, sekolah di mana lah, punya berapa saudara lah. Lalu aku juga berespon sok lancar, padahal hatiku gemetaran. Nervous gila-gilaan. Sampai pada akhirnya,

“Kamu ke sini sendirian? Duduk di mana? Mau aku temani ngobrol?”

“Eh, ga sendirian. Aku sama ayahku.”

“Hah?”

“Sama ayahku. Ga sendirian.”

“Haaah?!! Eh ah aduuh errh… Ini caramel chocolatenya. Makasih !”

Aku ditinggalnya berdiri di depan meja yang ada tong sampah dan cinnamon dan chocolate dan sedotan dan teman-temannya. Dia ngacir bok! Sekilas kulihat mukanya merah. Tiba-tiba aku dengar suara tertawa,

“Hahaha…” kencaaang sekali. Itu suara my lovely dad !

Segera aku berjalan ke arah tempat duduk. Sesampainya di sana, my lovely dad bilang,

“Lone, kayaknya barista cewek itu suka deh sama kamu. Samperin gih.”

Whaaatt??!!?!?!!?!?!

to be continue

Mesin-mesin itu mulai bekerja. Mereka menarik-narik tubuhku ke dua arah yang berbeda.

Aku berusaha berontak, tapi gagal.

Jari-jari mereka terlalu kuat mencengkeramku.

Aku teriak, tapi dimarahi. Terlalu bawel katanya.

Kaki tangan mereka seakan menerkamku.

Mereka meremas dadaku.

Aku sesak napas ,Kak.

Apa kamu tidak dengar aku?

Aku kesulitan berespirasi.

Dadaku sakit.

Mereka mencengkeramku dengan cakarnya yang berwarna hitam.

Aku takut.

Mereka bertambah lama dua menit setiap kalinya.

Aku berusaha berontak lagi.

Yang ada hanya kecaman.

Tapi tenanglah, itu semua sudah berlalu.

Saat ini aku sudah kuat.

Tidak akan tertarik bila ditarik.

Tidak akan berontak bila dicengkeram.

Melainkan berdiam diri dan mengumpulkan kekuatan.

Ma, sekarang aku sudah baik kan?

setelah attraction, 7:46 pm

Langit gelap tapi aku nekat. Aku menyelam dan kedinginan. Cipratan airnya masuk hidung, Mom. Kacamatanya berembun. Aku melaju dengan napas ngos-ngosan. Lama tidak bermain dengannya membuatku mudah lelah. Otot yang susah payah kubentuk rasanya mengendur.  Hidungku merah, ingusnya meler, bikin angka sebelas.

Tiba-tiba temannya turun. Bikin bunyi kecipak-kecipak. Bikin banyak bola-bola gelembung udara berisi air.

Tiba-tiba papanya teriak. Marah. Suaranya menggelegar. Matanya berkilat-kilat.

Aku disuruh naik. Mbak-mbak cantik takut aku terluka.

Aduh ! Harganya makin mahal!

dsc_1485Lorong itu berputar. Kepala saya pusing. Saya ingin muntah.

Bukan muntah karena rumus abc atau karena saya harus mencari kuat arus listrik atau karena sistem saraf yang tidak saya mengerti.

Saya ingin muntah karena muak, eneg, dengan perlakuan orang-orang di sekitar saya. Di sekitar dia juga.

Pura-pura perhatian padahal marah-marah. Padahal mendongkol dalam hati dan benaknya.

Saya ingin muntah karena dia bengkok, miring, tidak terletak pada tempatnya.

Siapa yang sadar? Siapa yang percaya sama dia? Siapa percaya sama saya?

Tidak ada.

Saat nanti harus bercengkerama dengan si air lalu menarik-narik badan, siapa coba yang peduli?

Lama-lama saya bawa mereka semua ke tembok lalu menghentakkannya agar mereka merasakannya.

Merasakan apa yang saya rasakan.

Entahlah, mungkin bukan cuma badan saya yang miring tapi juga otak saya.

enyah kau skoliosis, kumasak kau jadi sosis!

Next Page »